CALL US NOW 0812 2220 2751
DONASI SEKARANG
Pengertian Wakaf, Syarat, Hukum dan 4 Rukun Wakaf

Pengertian Wakaf, Syarat, Hukum dan 4 Rukun Wakaf

Pengertian Wakaf, Syarat, Hukum dan 4 Rukun Wakaf

Pengertian dan Penjelasan Wakaf, Rukun Wafaf, Syarat dan Hukumnya

Sebelum lebih jauh menunaikan amalan wakaf dan rukun wakaf, ada baik nya kita ketahui dulu apa itu wakaf dan pengertiannya.

Kata Wakaf atau “waqf” yaitu berasal dari bahasa Arab, Waqafa yang artinya menahan atau berhenti atau berdiam di tempat atau tetap berdiri. Menurut istilah fiqih, Wakaf adalah memindahkan harta milik pribadi menjadi milik suatu badan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan tujuan untuk mendapatkan kebaikan dan ridha dari Allah SWT.

Jika ditinjau dari segi syari’ah, wakaf adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan agama. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Rukun Wakaf

Kebanyakan jumhur ulama yaitu mazhab Syafi’i, Maliki dan Hanbali, mereka semua sepakat bahwa rukun wakaf ada 4, yaitu:

1. Orang yang Memberikan Wakaf (Wakif)

Wakif menjadi rukun wakaf pertama, Islam menekankan secara detail tentang syarat-syarat seorang wakif. Mulai dari merdeka, berakal sehat, dewasa atau baligh dan tidak sedang berada dalam pengampuan atau tanggungan orang lain (orang tua/wali). Keberadaan wakif yang memenuhi syarat dalam sebuah niat atau transaksi wakaf adalah mutlak harus dipenuhi seutuhnya. Kesepakatan bisa terjadi dan sah hukumnya antara wakif dan penerima wakaf apabila rukun pertama ini dipenuhi.

2. Barang dan Harta yang Diwakafkan (Mauquf)

Rukun kedua ini mengandung arti adalah harta yang diwakafkan harus memenuhi syarat. Tidak sah suatu kesepakatan wakaf apabila harta yang diwakafkan tidak mengandung manfaat dan bukan termasuk harta yang dimiliki (rumah sewaan, kontrak, dll). Lalu harta yang akan diwakafkan pun menjadi tidak sah apabila barang yang akan diwakafkan tidak diketahui jumlah pastinya, misalnya mewakafkan sebagian tanah yang dimiliki namun tak mengetahui pasti berapa kadar “sebagian” itu. Hal ini untuk mencegah terjadinya sengketa di kemudian hari, yang dapat menghambat pengembangan harta wakaf.

3. Tujuan Wakaf / Orang yang Menerima Wakaf (Mauquf ‘alaih)

Rukun keempat adalah wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dengan syariat Islam. Pada dasarnya wakaf adalah amalan yang ditunaikan untuk mendekatkan dairi antara Manusia kepada Allah. Menurut Mazhab Syafii yang banyak digunakan di Indonesia, mauquf ‘alaih adalah ibadah menurut pandangan Islam saja, tanpa memandang keyakinan wakif. Karena itu sah wakaf muslim dan non muslim kepada badan-badan sosial seperti penampungan, tempat peristirahatan, badan kebajikan dalam Islam seperti masjid. Dan tidak sah wakaf muslim dan non muslim kepada badan-badan sosial yang tidak sejalan dengan Islam seperti Gereja.

4. Ikrar Penyerahan Wakaf Kepada Badan, Organisasi atau Orang Tertentu (Sighat)

Rukun wakaf yang terakhir adalah sigat, Sigat adalah segala ucapan, tulisan, atau isyarat dari orang yang berakad untuk menyatakan kehendak dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Status Sigat (pernyataan), secara umum adalah salah satu rukun wakaf. Wakaf tidak sah tanpa sigat, setiap sigat mengandung ijab dan mungkin mengandung qabul pula.

Dasar (dalil) perlunya Sigat (pernyataan) ialah karena wakaf adalah melepaskan hak milik dan benda dan manfaat atau dari manfaat saja dan memiliki kepada yang lain, maksud tujuan melepaskan dan memilikkan adalah urusan hati. Tidak ada yang menyelami isi hati orang lain secara jelas, kecuali melalui pernyataan sendiri. (cal)

Syarat Wakaf

  • Orang yang memberikan wakaf berhak atas perbuatan itu dan atas kehendaknya sendiri.
  • Orang yang menerima wakaf harus jelas, baik berupa organisasi, badan atau orang tertentu.
  • Berlaku untuk selamanya, artinya tidak terikat dalam jangka waktu tertentu.
  • Barang yang diwakafkan berwujud nyata pada saat diserahkan.
  • Jelas Ikrarnya, dan penyerahannya lebih baik tertulis dalam akta notaris sehingga jelas, dan tidak akan timbul masalah baru pada pihak keluarga yang memberi wakaf.

Hukum Wakaf

Wakaf hukumnya sunah dan harta yang diwakafkan terlepas dari pemiliknya, lalu semata-mata menjadi hak Allah, tidak boleh dijual atau dihibahkan untuk perseorangan dan sebagainya.

Wakaf harus digunakan menurut ketentuan akad wakaf pada waktu mewakafkan. kelebihan wakaf dari amal-amal lain, ialah telah disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Dari Abu Hurairah ra bahawa Rasulullah Saw bersabda: ” Jika anak adam telah meninggal, maka putus semua amalnya kecuali tiga: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kepadanya.” (HR. Muslim)

Sumber: Muslim Pintar dan Aksi Cepat Tanggap (ACT)